Budi Herian

Budi Herian

follow me, @budiherian on twitter

December 23, 2011

Hanya Memberi Tak Harap Kembali —> IBU

di post oleh nayhelfira.

_____________________________________________________________________________

hari ini tgl 22 Desember 2011, kyaaaaaa Selamat hari Ibu buat Ibu-Ibu Super hebat sedunia ;)

Walaupun hari ini kurang baik kayanya kalo cerita tentang gimana dkampus seharian ini -__- dengan seabrek kebegoan. Jadi kan siang jam 1 itu mustinya masuk pondasi, begonya jd lupa waktu karna asiknya ngerjain tugas yang alhasilpun blm fix itu tugas seabrek” -_- di lt. 2 kampus . grrr taunya tlat 15 menit :( Ada 3 orang temen juga yang telat —” . heuu, udah tau gabole telat. jadi aja nungguin kelar jam nya. Akhirnya sekitar jm 2an ngeberaniin diri buat minta ijin ngumpulin tugas ke si bapak, alhamdulillahnya yah diijinin :)) . daaaan lupa makan siang deh -,- karna harus masuk lagi jam 3.

Jam 3 masuk PTM, pemindahan tanah mekanis. Udah aja nungguin kelas dibuka, eh taunya kita dikasi tugas besar yang deadline parah banget (7 januari ‘12). huaaa seriusan deh lemes nyaaa abis denger itu info -______-“. Akhirnya pulang kampus udah ga semangat deh. Eh trus keinget mau beliin mama sesuatu. yang ceritanya pgn ngasi sesuatu yang spesial buat mama :)  jiahaha tapi bingung ngasi apa. Secara kantong mahasiswi kan ga tebal-tebal amat ya ma -____-“.

hihi jd mutusin deh beli apa ya itu cake yang imut” gitu hihihi :D /人◕ ‿‿ ◕人\ . 

Tapi cuma bisa ngasih ini huhu bener” mahasisiwi sekali ini -,- . tapi do’a nya nay buat mama insyaallah ga putus” ;)

sayaaaaaang deh sama mama ♡(*´∀`*)人(*´∀`*)♡

“Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, Bagai Sang surya menyinari dunia”

Love you, Mom

(via : @nayhelfira.tumblr.com)

December 21, 2011

This Boy and My Nightmare part 1

sumber : http://fidahusnie.wordpress.com/2011/06/30/this-boy-and-my-nightmare-part-1 


Hello Boy!

Eun Hee POV

Mimpi buruk paling seram adalah masa lalu yang memalukan. Aku tidak sok tahu, aku juga tidak mengutip kalimat ini dari internet, aku merasakannya sendiri.

Dahulu kala, aku pernah mengalami yang disebut ‘pelecehan harga diri’. Saat itu aku masih SD kelas lima. Kejadian itu mengendap jadi hantu di otakku. Kemana saja aku pergi, kejadian itu setia menemani. Gentayangan. 

Seorang Namja yang berperan sebagai aktor utama dalam peristiwa itu, sudah kutetapkan sebagai musuh abadi dalam hidupku. Namja itu benar-benar merusak masa laluku yang bahagia.

Baiklah, aku akan cerita sedikit mengapa aku benci sekali dengan kejadian itu.

Namanya Lee donghae. Panggilannya Donghae.

Penggila sepakbola, sama sepertiku. Saat itu, karena lapangan di desaku Cuma satu, timnya dan timku bertaruh main bola untuk menguasai area lapangan. Tantangannya bertanding setengah jam. Hasilnya seri, 2-2. Karena seri, maka kami berunding lagi untuk menentukan pemenangnya. Aku, yang saat itu sok jagoan sekali, dengan gobloknya bilang akan siap mengikuti lomba apapun yang dia ajukan.

Dan tahukah kalian apa yang diusulkan oleh Lee Dong-Dong terkutuk itu?

“Baiklah, karena kau sudah bilang akan siap lomba apapun, kami sudah putuskan, KAU dan AKU akan lomba ‘kencing terjauh’”

GLODAK…

Rasanya ada setundun kelapa mencium kepalaku.

LOMBA KENCING TERJAUH KATANYA?

“Yang kalah, akan dikencingi, yang menang mengencingi… Bagaimana?” katanya semangat. Anak-anak dibelakangnya tertawa mendukung.

Aku membeku di tempat. Bagaimana ini?

Lee Dong-Dong sinting itu bahkan tidak tahu aku ini yeoja… Kencing terjauh bagaimana caranya? Apa pakai selang?

Teman-teman Namja se-timku berebutan menggantikan posisiku. Namun sial sekali, Lee Dong-Goblok itu dengan santainya berkelit.

“Aku hanya mau tanding dengan kapten Tim, Lomba sudah diputuskan, dan peserta sudah dianggap bersedia, baik… kapan kita mulai?” tanyanya santai.

Aku mendesah pasrah, dan segera bilang ‘kau mulai dulu’.

Ia mengeluarkan propertinya dan dengan hebat berhasil kencing sejauh setengah meter. Aku gelagapan saat giliranku tiba. Aku tidak mungkin bisa kencing se-hebat itu. teman-teman Namjaku melirikku penuh harapan. Aku menatap si Dong-Lee-Hae sinting itu dengan garang.

“Aniyo… Kau menang” kataku sambil melihatnya tak berdaya. Aku memutuskan untuk tidak membuka celana olahragaku.

Dia segera menyeretku ke tengah lapangan. Siang itu, pada Februari 1996… Lee Donghae telah MENGENCINGIKU DIDEPAN UMUM!

*

Sejak saat itu, aku pindah sekolah. Aku merasa tak sanggup mengangkat wajahku gara-gara air seni dari bocah tak bermoral itu. Aku pindah ke Seoul bersama ayah dan ibuku. Walaupun aku setengah mati mencoba menguburnya, ingatan itu terus saja nongol  di otakku seenak kentutnya.

LEE DONGHAE….

LEE DONGHAE…

LEE DONGHAE….

Aku mengingat wajahnya diluar kepala. Aku yakin, sekalipun aku bertemu dengannya saat ini dan wajahnya banyak berubah, aku akan tetap mengenalinya dan bisa saja langsung membunuhnya.

Pada 2005, sebuah keajaiban terjadi. Korea dilanda demam Super Junior. Aku –yang saat itu masih mahasiswi- tak banyak peduli masalah begituan, sampai akhirnya salah satu teman yeoja-ku menunjukkan poster mereka didepanku. Aku menemukannya! Lee Dong-Goblok itu ada diantara mereka!

Aku segera mencari tahu banyak hal tentangnya. Baru saja aku berniat membalas dendam, kejadian buruk menimpaku lagi. Umma dan appaku meninggal dalam kecelakaan menuju Seoul. Aku kembali ke Mokpo. Tinggal serumah dengan pamanku dan sepupuku yang masih bayi, Kim Yoogeun.

Aku sudah sedikit lupa masalah Lee-Dong gila itu.

*

“Ne… Mereka akan konser di Mokpo lusa, Outdoor lho..” Rae Ya mengomporiku agar ikut berpartisipasi. Aku melihatnya datar dengan harapan dia tahu kalau aku tidak sudi.

“Kau yakin? Omo.. omo… kau akan menyesal kalau tidak melihat mereka jarak dekat, Outdoor.. Outdoor..”

“Lalu kenapa kalau Outdoor?” tanyaku tak berselera.

“Berarti kita bebas keluar masuk tanpa kursi…Kita bisa jingkrak-jingkrak atau bergerombol maju kedepan panggung… kan seru..”

Otakku seakan tersambung lagi dengan kejadian bodoh itu.

Kita bisa jingkrak-jingkrak atau bergerombol maju kedepan panggung….

Kata-kata Rae Ya berhasil meyakinkan jiwaku bahwa ‘saatnya sudah tiba’…

Kesempatan emas untuk menemui Namja sialan itu telah terbuka selebar lapangan bola.

*

Donghae POV

Aku baru saja keluar dari Bus. Baru bangun tidur. Aku ketiduran di bus tadi dan bermimpi aneh.

“Hyukjae-ah… barusan aku mimpi aneh” kataku membuka pembicaraan. Mukanya, yang kelihatannya juga bangun tidur memandangku malas.

“Mimpi apa? “

“Aku mimpi mengejar ular… aneh kan?”

Eunhyuk kelihatan berpikir. Mukanya serius. Aku meliriknya penasaran.

“Kalau mimpi digigit ular, berarti kau dapat jodoh, tapi kalau mengejar ular, berarti… kemungkinan besar artinya kau mengejar jodoh….Hm… lumayan cocok, bukannya akhir-akhir ini kau memang sedang tidak laku?,..”katanya enteng. Aku menjambak rambutnya. Enak sekali dia bilang begitu.

Siwon –yang seperti biasa selalu jadi orang ketiga diantara aku dan Hyukjae- ikut berkomentar. Kelihatannya dia mendengar ceritaku tadi.

“Biasanya… kalau mimpi mengejar binatang  itu artinya kau akan dapat keberuntungan…”

Aku masih mengerutkan kening saat Dongsaengku yang paling dongsaeng –namanya Cho Kyupret-  menyerobot merangkul Hyukjae.

“Kalau mimpi mengejar ular, itu artinya kau cari mati..HUAHAHAHA”

Aku segera menjitak kepalanya.

*

Eun Hee POV

Pagi ini, aku memutuskan berangkat ke lokasi Konser yang dikatakan Rae Ya kemarin. Aku sengaja tak mengajaknya berangkat bersama. Bahaya! . Aku justru mengajak Kim Yoogeun, sepupuku yang masih TK.

Kali ini, kau pasti mampus Lee-Donghae..

Yoogeun masih berpamitan dengan Hyeo Shin ahjumma dan Kim Nam Jo Ahjussi di ruang tamu. Aku meliriknya tak sabar. Kenapa pamitan lama sekali?. Dan eh, kenapa pakai nangis segala? Memangnya mereka pikir kami mau ke luar negeri?

Ya ampun… Berlebihan…

“Eun Hee-ah… jaga Yoogeun baik-baik..” kata Hyeo Shin untuk keempat kalinya.  Aku megangguk agak kesal.

Mereka bertiga berpelukan lagi.

“Ini untuk uang jajanmu dan Yoogeun… kalau mau beli jajan atau mainan pakai saja..” Nam Jo Ahjussi menyodoriku uang. Aku menatap uang itu agak kaget. Tumben, banyak sekali. Tidak biasanya mereka memberiku uang jajan sebnayak ini. Apalagi setelah aku sudah bekerja. Nyaris tak pernah. Memang  dasarnya mereka pelit dan kebetulan juga agak melarat, jadi aku maklum saja.

“Ahjussi… Ahjumma… Kami  berangkat dulu..” kataku sambil menyeret tangan Yoogeun.

Nam Jo ahjussi dan Hyeo Shin ahjumma berpelukan sambil menangis. Tak lupa tangan mereka berdua melambai kearah Yoogeun. Astaganaga… mereka pikir  mereka itu sedang main drama? Aish.. aku jadi malu sendiri melihatnya.

Yoogeun dan aku sudah tiba di halte. Mencegat bus. Naik bus.

“Yoogeun-ah… kau masih ingat kata-kata Noona tadi kan?”

Yoogeun –yang sedang mengunyah permen karet dan duduk disebelahku- menatapku.

“Lupa” jawabnya singkat.

Aku menepuk jidatku.

“Kau lupa lagi?…”

“Yang mana?” tanyanya singkat. Bola matanya melarikan diri memelototi kandang sapi  yang kelihatan dari jendela Bus. Aku memgangi wajahnya. Memaksanya melihatku. Bola matanya masih lari kesana-kemari.

“Begini ya Yoogeun sayang,… setelah kita sampai disana…. Kau harus naik panggung… dan cari namja yang ini…” kataku sambil menunjuk poster Lee Donghae yang kubuka didepannya. Yoogeun manggut-manggut.

“Kau harus Ingat wajahnya …. Nanti Noona tunjukkan langsung yang mana orangnya kalau kita sampai disana..” lanjutku. “Lalu… Kau minta digendong … dan kau ingat kan harus melakukan apa?”

“BUKA CELANA DAN MENGENCINGINYA!”  teriaknya bersemangat. Aku segera menutup mulutnya dan menoleh minta maaf pada penumpang Bus yang  tentu saja memelototi Yoogeun.

“Bagus.. Yoogeun pintar.. Nanti Noona belikan Eskrim..” kataku sambil mencubit pipinya. Dia nyengir.

“Pizza juga…”

Aish… anak ini…

“Ne… pokoknya Yoogeun harus melakukannya dengan benar… Harus kena kepalanya…. pasti Noona belikan Eskrim..”

“Pizza juga” potongnya lagi.

“Iya… Eskrim dan Pizza…” kataku akhirnya.

Yoogeun membuka tas ranselnya. Menyambar susu Kotak. Aku melirik isi ranselnya dan seketika terperangah.  Ranselnya nyaris meledak karena penuh dengan Jajan dan jaket salju.

“Kenapa kau bawa jajan sebanyak itu?” tanyaku .

“Untuk dimakan … “

Aish.. anak dibawah umur! Siapa yang tidak tahu kalau jajan itu untuk dimakan?

Keningku berkerut. Hari ini Umma dan appa Yoogeun aneh sekali. Mereka mendadak jadi baik, jadi dermawan, dan tentu saja jadi lebay. Membuatku curiga. Bukankah akhir-akhir ini mereka sedang di puncak kemelaratan?

*

Donghae POV

Bonamana selesai juga. Aku sedikit ngos-ngosan ikut bergabung ke tengah panggung bersama dengan Hyung dan dongsaengku yang lain. Mereka –seperti biasa- sedang mempromosikan diri mereka sendiri didepan penggemar yang memadati halaman panggung. Aku mendengar  dan melihat dengan sangat jelas sekali bahwa yang meneriakkan ‘Donghae atau Lee Donghae atau Fishy atau  Eunhae’ kali ini berlipat-lipat jumlahnya dari konser biasanya. Secara, ini Mokpo, tanah airku… tempat lahir ‘Lee Donghae atau Donghae atau Fishy atau…

Eh.. Lee Dong-Goblok?

Mataku menangkap banner penggemar yang letaknya tidak jauh dari posisiku berdiri. Seorang yeoja dan adiknya atau mungkin anakny a atau mungkin anak tetangganya, halah, sedang memegangi banner dengan tulisan aneh itu. Dia ini cari mati atau apa? Menulis lee Dong-Goblok di konser Super Junior?

Bebrapa yeoja dsisampingnya kelihatan sekali ingin menggemplang kepala yeoja sinting itu.

Ah, paling-paling itu hanya strateginya mencuri perhatianku…

Tapi, Lee Dong-Goblok? Sialan sekali menulis seperti itu. Kulihat Eunhyuk dan Siwon tertawa-tawa sambil melirik banner yang sedang kulihat.

Baiklah, itu tidak penting…

Tapi, eh…. Anak si Yeoja itu mendadak menyerobot maju kedepan setelah Umma atau Noonanya yang aneh itu membisiki sesuatu yang anehnya lagi sambil melirik-lirik dan menunjuk-nunjukku. Tangannya yang memegangi susu kotak menarik-narik rok dan celana penggemar yang bergerumbul didepannya untuk minta jalan. Anak kecil itu kini sudah didepan panggung, mungkin dua meter.

Eh…eh,…eh…

Dia mau kemana?

*

Eun Hee POV

YHAK!

YOOGEUN!

APA YANG KAU LAKUKAN?!

BUKAN YANG ITU!

YOOGEUN! YOOGEUN!

BUKAN YANG ITU YOOGEUN!!!!

YOOOGEUUUUUUNNNNNNN!!!!!!!!

……

Nafasku sesak. Yoogeun sekarang tengah menangis hebat sambil minta digendong Namja yang berdiri disebelah Lee Dong-Krak sialan itu. Hya… Kenapa jadi begini…

Eh…

Dia sudah digendong si Namja sipit  berambut kuning. Namja-namja itu tertawa-tawa sambil berebutan menjawil pipinya.

Oh Tuhan… semoga berhenti disini saja…

Yoogeunku yang kurang pintar itu salah sasaran…

Jangan sampai dia mengencingi orang yang tak bersalah…

Oh..Oh..Oh…

Eh..

Hya!!

Yoogeun berdiri. Ia menaruh kedua kakinya diatas pundak si Namja sipit dan…

Dan..

Mulutku melongo.

DIA MEMBUKA CELANANYA!!!!!!

*

Donghae POV

Ccurrrr…….

Kepala Eunhyuk basah.

“GYAHAHAHAHAHHA….HAHAHAHAHAHAHA…..HAHAHAHA….”

“BUAHAHAHAHAHA……HAHAHAHAHAHA”

Pangggung serasa roboh.

Aku dan semua member tertawa sambil berguling-guling di lantai panggung. Eunhyuk yang sedang sial itu segera menurunkan bocah tak dikenal itu…

Eh,

DIATAS  MUKAKU!!!

Aku gelagapan sambil segera mengangkat bocah itu. Berlari  menuju kearah Kyuhyun. Dongsaeng setan itu tak sempat menghindar karena dia sendiri terlalu heboh tertawa. Aku menaruhnya diatas pundak Kyuhyun. Leeteuk Hyung memegangi tangan Kyuhyun. Shindong dan Yesung Hyung memaksa Kyuhyun tengkurap dilantai. Siwon mengangkat  bocah itu dan..

MENARUHNYA DI WAJAH KYUHYUN…..

BUAHAHAHAHAHAHAHAHAHA……

Ini seru sekali. Dongsaeng setan itu berteriak-teriak tak berdaya, sementara ratusan kamera mempotret wajahnya.

*

Eun Hee POV

Aku merangsek kedepan panggung. Yoogeun dalam bahaya sekarang. Ia jadi imbal-imbalan Namja-namja sialan itu.

Begitu Yoogeun turun dari wajah si Namja berambut setengah kerting, ia melihatku. Berlari kearahku. Lee Dong-Dong yang sejak tadi curiga padaku ikut mendekat. Tangannya memegangi tangan kiri Yoogeun. Aku menarik Yoogeun sekuat tenagaku. Tapi si Dong-dong itu masih memganginya kuat-kuat.

Tak ada waktu lagi. Aku segera naik keatas lantai panggung. Beberapa kru panggung sudah meluncur kearahku. Ini benar-benar genting.

Yhak… SI DONG-DONG ITU MASIH MEMEGANG YOOGEUN…..

Aku menarik tangan kanan Yoogeun sekuat mungkin.

Aku segera melempar banner kayu bertuliskan ‘Lee dong-Goblok’ tepat di depan hidungnya. Ujung banner kayu itu menghantam lubang hidungnya. Dia kaget dan memegangi hidungnya yang mimisan. Tangan Yoogeun terlepas. Segera setelah tangannya lepas, para kru dan bodyguard menyerbuku. Oh tuhan… Apa yang harus kulakukan?

Aku menyeret tangan Yoogeun menuju gerumbulan pemotret yang sedang sangat heboh mengabadikan moment di panggung. Itu satu-satunya area aman yang menyulitkan Bodyguard lewat. Aku harus lewat sana. Aku berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar.

*

Donghae POV

Yhak… Kemana larinya gadis itu!

Aku berlari menuju ruang kostum dan menyerobot keluar lewat pintu belakang. Tanganku menyambar jaket dan menutup hidungku yang berdarah dengan kaos tangan yang kupakai. Aku tahu gadis itu sengaja memanfaatkan bocah pengencing itu untuk mengencingiku.

Aku harus buat perhitungan dengannya!

Aku berlari menuju jalan raya. Aku melihat gadis itu terengah-engah sambil memegangi bocah sialan itu.  Saat matanya menangkapku, ia berlari lagi. Kali ini ia berbelok masuk ke blok yang ada di sisi kanannya. Aku menyusulnya.

Ketemu!

Gadis bodoh itu sembunyi dibelakang pagar toko. Aku bisa melihat syalnya menjuntai ke tanah.

“Kau mau lari kemana?” tanyaku begitu ekor mataku melihat wajahnya. Ia meringkuk setengah jongkok dengan bocah pengencing yang sembunyi di pangkuannya.

Ia menatapku  kaget. Wajahnya berkeringat. Matanya melotot. Ia tak menjawab.

sumber : http://fidahusnie.wordpress.com/2011/06/30/this-boy-and-my-nightmare-part-1

December 20, 2011

Kisahku : Dihipnotis Di hari Jum’at Part-1

Cerita ini 100% nyata. bukan fiksi. tulisan ini hanya untuk dikenang oleh penulis dan nama nama yang ada di dalam cerita ini disamarkan.

jika mau mengirim cerita yang mau di muat di #Kisahku kirim saja e-mail ke pengalamankisaku@gmail.com :) pengalaman harus unik n menarik dannn tidak boleh cerita yang mengandung unsur pornografi, pokoknya bagus :)

kejadian ini aku alami saat kelas 6 SD. saat ini aku kelas dua smp. pada saat hari jum’at tepatnya saat sebelum sholat jum’at aku dan teman teman ku menjemput jemput teman teman dulu.. (kebiasaan waktu SD) jadi saat kami berjalan di jalan yang sepi, salah satu akses menuju masjid, tiba tiba ada motor yang menghalangi jalan kami. saat itu aku berjalan dengan setiawan dan kurniawan (nama disamarkan, karna belum izin) “dek, nama adek siapa?” tanya nya kepada teman ku, kURNIAWAN. “Kurniawan om” katanya. seorang yang bertanya tadi adalah lelaki tinggi, putih, mungkin tidak berkumis, memakai jaket, kepalanya ditutupi helm.

 "om adalah om kamu, om ini temen papa kamu kurniawan" kata om itu. "Nah om ini punya Kios.. om ini mencari hape Nokia. Kamu ada gak hp Nokia?" tanya om itu. "Ada Om." Kata kurniawan. "Tipe berapa?" tanya nya "gak tau om" "Nah sekarang Kita ke rumah kamu aja.. biar om liat hape nya.." "ya om"

Kurniawan menaiki motor om itu. lalu mereka pergi ke rumah nya kurnia. Tak berapa lama kemudian mereka kembali. om itu kembali bertanya.. “kamu punya Nokia?” tanya nya kepadaku. “ya” “tipe berapa?” “gak tau om” “ah, masa gak tau sih?” “iya om”

"kalo gitu om kerumah kamu aja.. kita liat hp nya" "ah enggak ah om" kata ku ragu-ragu. "ayolah.. Kurnia juga akan ikut".. jadi nya aku memutuskan untuk pergi bersama om itu dan Kurnia.

sesampainya di rumah ku om itu menyuruh mengambil hp ku. “ambil hape mu dik” “enggak ah oom nanti mama saya marah.. lagian buat apa om?” “om mau cari hape buat pameran pameran ” “hah?? setau saya gak pernah ada pameran tuh.. nanti kalo gak jelas.. mama saya bisa marahhh om sama om…” kataku meyakinkan. “ya sudahlah daripada kita cari masaalahh..”

"teman2 kamu disekitar sini ada lagi ga yang nokia?" tanya om itu."gak ada om.." "masa?" "ada nya temen sekolahku om .. namanya ara (nama samar)

"dimana rmahnya?" " jauhh banged om" "dimana tu?" di daerah (…..) " "oh yualah kita kesana.." "tapi kan bentar lagi kita mau solat jumat om.." "makanya kita harus cepat…" katanya. sesekali dia selalu melihat ke belakang. mungkin agar aku melihat matanya dan tegang ketakutan.

sesampainya di rumah ara ia menyuruhku untuk mengajak ara memberi hape nya untukku lalu memberikannya untukku. sialan nih om !! kalo lo penipu kan gue yang kena.. kata ku dalam hati.. dia mengancamku dia blg dia akan meninggalkanku. jadi kuturuti saja kemauannya, lalu aku mengetuk pintu dan ara membuka pintu GLEK. mati aku rasanya

BERSAMBUNG